4 Jenis Mahasiswa, Anda Termasuk Yang Mana?
by Romi Satria Wahono
Pada saat menjadi mahasiswa baik di program S1, S2 maupun S3 di Jepang, saya mengalami berbagai proses pembelajaran yang kadang bikin geli kalau mengingatnya sekarang. Proses belajar ternyata membuat jenis dan karakter saya berubah-ubah. Kadang saya nggak sadar dengan ketidakmampuan saya, tapi kemudian kenyataan menyadarkan saya bahwa saya tidak mampu, dan akhirnya setelah saya belajar keras saya jadi sadar apa saja kemampuan saya. Di sisi lain agak sedikit berbahaya ketika saya tidak sadar dengan kemampuan saya. Jadi kayak bunglon dong? Hmm lebih tepatnya bunglon darat
. Terus saat ini anda termasuk jenis mahasiswa yang mana? Mari kita lihat bersama.
1. Mahasiswa Yang Tidak Sadar Akan Ketidakmampuannya (Unconsciously Incompetent)
Tahun 1994, kehidupan saya di Jepang di mulai. Saya beserta 14 orang yang lain sekolah bahasa Jepang di Shinjuku, nama sekolahnya Kokusai Gakuyukai. 1 tahun belajar bahasa Jepang, kita berhasil menghapal sekitar 1000 kanji. Kemampuan bahasa Jepang level 1 menurut Japanese Language Proficiency Test alias Nihongo Noryoku Shiken. Kebetulan karena saya senang nggombalin orang ngomong, percakapan bahasa Jepang saya cukup terasah (pera-pera). Di Kokusai Gakuyukai, kita juga diajari pelajaran dasar untuk Matematika, Fisika dan Kimia. Ini juga nggak masalah. Kurikulum Indonesia yang padat merayap plus rumus-rumus cepat ala bimbel
, membuat soal-soal jadi relatif mudah dikerjakan. Karena saya newbie di dunia komputer, padahal harus masuk jurusan ilmu komputer, saya beli komputer murah untuk saya oprek. Newbie? yah bener, saya gaptek komputer waktu itu. Saya kerja keras, saya bongkar PC, saya copoti card-cardnya karena pingin tahu, sampe akhirnya rusak hehehe. Terus nyoba mulai install Windows 3.1. Lebih dari 3 bulan, tiap malam saya keloni terus itu komputer, jadi lumayan mahir lah. Tahun 1995, masuk ke Saitama University dengan sangat PD dan semangat membara
. Nah pada tahap ini saya sebenarnya masuk ke jenis mahasiswa yang tidak sadar akan ketidakmampuannya. Dikiranya semua sesuai dengan yang dibayangkan dan diangankan.
2. Mahasiswa Yang Sadar Akan Ketidakmampuannya (Consciously Incompetent)
Masuk kampus, ternyata bekal kanji 1000 huruf nggak cukup. 1000 kanji itu level anak SD atau SMP di Jepang. Saya perlu lebih dari 30 menit untuk membaca 1 halaman buku textbook pelajaran, padahal orang Jepang hanya perlu 2-3 menit
Kemahiran percakapan juga nggak banyak menolong karena mahasiswa Jepang membentuk grup-grup. Saya satu-satunya mahasiswa asing di Jurusan, nggak kebagian teman, meskipun sudah kerja keras tegur sapa, ngajak kenalan, nanya jam, nanya mata pelajaran, dsb. Matematika, Fisika, dan Kimia sebenarnya mudah, hanya masalahnya karena Kanji terbatas, kadang saya nggak ngerti yang ditanyain apa. Jadi kadang saya kerjasama dengan mahasiswa Jepang disamping saya, dia ngerti apa yang ditanyain, tapi nggak bisa ngerjakan. Sebaliknya saya nggak ngerti yang ditanyain, tapi sebenarnya bisa ngerjain … hehehe. Untuk praktek di lab komputer, ternyata semua pakai terminal Unix (Sun), sama sekali nggak ada mesin yang jalan under (Microsoft) Windows. Yang pasti, harus sering mainin command line di shell, untuk ngedit file hanya bisa pakai emacs, browsing hanya bisa pakai mosaic, laporan harus pakai latex, buat program harus pakai bahasa C atau perl (CGI) untuk yang berbasis web. Kenyataan membuat saya sadar akan ketidakmampuan saya
.
3. Mahasiswa Yang Sadar Akan Kemampuannya (Consciously Competence)
Karena sadar bahwa banyak hal yang ternyata saya belum mampu, yang saya lakukan adalah belajar keras. Saya kurangi tidur, saya perbanyak baca, perbanyak beli buku, beli kamus elektronik, banyak diskusi dengan teman-teman mahasiswa Jepang. Saya mulai banyak bermain-main dengan Linux dan FreeBSD di rumah untuk kompatibilitas dengan tugas kampus. Nyambung internet dengan dialup, mulai belajar mengelola server, mulai membuat program kecil-kecilan dengan bahasa C dan Perl. Banyak kerja part time, mulai dari nyuci piring, interpreter, code tester dan programmer. Saya mulai aktif di dunia kemahasiswaan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus, termasuk ikut mengurusi Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang sampai pernah terpilih jadi ketua umumnya. Knowledge dan skill di kampus terasah, experience dan manajemen keorganisasian juga terasah. Alhamdulillah saya mulai banyak punya teman Jepang, kadang makan bareng, main bareng atau ngoprek komputer bareng di asrama mereka. Untuk menambah ilmu kadigdayaan (sebenarnya sih untuk keperluan kerja part time
), saya menambah peliharaan komputer di apartemen dengan Apple Macintosh dan beberapa Unix machine.
Tahun pertama dan kedua terlewati dengan baik, nilai lumayan dengan nuansa penuh kegembiraan. Saya berusaha semaksimal mungkin “menjual” kemampuan saya, baik dalam bentuk jasa alias sebagai interpeter, lecturer, programmer, software engineer, maupun dalam kemasan produk software yang saya buat (sistem informasi rumah sakit, sistem informasi periklanan, web application, network management system, dsb). Alhamdulillah saya sudah bisa mandiri dan mendapat banyak pengalaman dan keuntungan finansial mulai tahun ketiga kehidupan saya di Jepang, sehingga akhirnya saya putuskan menikah “dini” supaya lebih tenang, aman dan sehat
. Nah pada masa ini jenis saya adalah semakin sadar akan kemampuan saya
.
4. Mahasiswa Yang Tidak Sadar Akan Kemampuannya (Unconsciously Competence)
Saya banyak ngejar kredit di tahun 1 dan 2, dengan harapan bisa tobikyu (loncat tingkat), meskipun saya kemudian nggak minat lagi karena ternyata di Jepang kalau kita loncat langsung ke program Master (S2), ijazah S1 nggak diberikan oleh Universitas. Resiko besar kalau saya balik Indonesia tanpa ijazah S1, urusan birokrasi pemerintahan (PNS) akan merepotkan, apalagi kalau nanti nyalon jadi walikota semarang, bisa kena pasal ijazah palsu … hehehe. Akhirnya tingkat 3 kuliah banyak kosong (sudah terambil di tingkat sebelumnya). Part time juga saya lebih selektif, hanya di bidang garapan saya saja, yang bisa kerja remote dan lebih bebas waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk kerja kasar nyuci piring atau angkat karung. Saya terpaksa ambil mata kuliah jurusan lain untuk menjaga ritme kampus. Meskipun kadang ditolak professor pengajar, karena saya ambil mata kuliah semacam combustion, teknologi pendidikan, sistem tata kota, dsb yang nggak ada hubungan dengan computer science. Akhirnya karena keasyikan ngambil kredit, nggak sadar kelebihan kredit. Total terambil 170 kredit, padahal syarat lulus S1 hanya 118 kredit :D.
Sehari hampir 18 jam di depan komputer, kecuali tidur sekitar 6 jam, tugas kampus juga saya kerjakan dengan baik. Akhirnya masuklah saya ke masa, “nggak ngerti lagi mau ngapain di Internet”
. Saya mulai suka iseng dan banyak aktif di dunia underground dengan berbagai nama samaran. Saya kadang membuat program looping tanpa stop untuk mbangunin admin kampus, alias men-downkan server karena overload CPU dan memori. Kadang nge-brute force account teman untuk ambil passwordnya, sehingga bisa baca email-email cintanya
. Sampai akhirnya saya pernah kena skorsing 3 bulan karena ngecrack account professor-professor di kampus. Nah di masa ini, saya berubah jenis sebagai mahasiswa yang nggak sadar bahwa punya kemampuan untuk berbuat negatif dan merusak kestabilan kampus
.
Di sisi lain, saya banyak mendapatkan knowledge di Universitas, formal language dan automata, software project management, software metrics, requirement engineering, dsb yang pada saat dapat kita mikirnya ini nanti dipakai dimana yah
. Tapi ternyata semua itu bekal yang cukup berguna ketika harus masuk ke dunia industri dan menggarap project-project yang lebih riil. Kondisi seperti ini juga termasuk dalam posisi yang tidak sadar akan kemampuannya
Bagaimanapun juga mahasiswa sebaiknya di arahkan untuk menjadi jenis ke-3, yang sadar akan kemampuannya dan menggunakan kemampuannya untuk hal-hal positif. Kalaupun ada mahasiswa yang dengan skillnya terjebak tindakan negatif, pembimbing ataupun dosen juga harus bijak mensikapi. Bagaimanapun juga ini semua adalah proses belajar dan proses pematangan diri. Sebagai tambahan, 4 hal diatas diformulasikan orang dan terkenal dengan nama teori Experiential Learning. Lalu anda termasuk yang mana? Silakan dijawab sendiri.
Yang paling penting, apapun jenis anda, jangan pernah menyerah dan tetap dalam perdjoeangan !
















































































July 8th, 2007 at 13:34
Pengalaman bapak hebat dan banyak sekali.. jadi iri nih.. salut
July 8th, 2007 at 14:21
PertamaX
*baru kemudian baca*
July 8th, 2007 at 15:13
Umumnya saat ini banyak mahasiswa yang tidak sadar akan kemampuannya. Banyak ditemui mahasiswa setelah lulus, berprofesi tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang ia geluti waktu kuliah..
Kesimpulannya : sadar belakangan….
July 8th, 2007 at 16:36
kayaknya saya masuk dibeberapa tempat..hehehe
1 sama 4..hehehehe
July 8th, 2007 at 17:47
# Roffi: Waduh aku masih perlu banyak belajar, masih belum banyak pengalaman
# Alex: Hehehe makanya jangan terlalu PD, ternyata ada yang lebih dulu komentar …kekekek
# fR3dDy: Bener mas. Kadang nggak ngerti kalau ilmunya high level dan bisa bikin sakti hehehe
# Arul: Saya yakin kehidupan kampus akan membuat proses belajar kita berjalan dari 1 sampai 4, meskipun kadang nggak urut
July 8th, 2007 at 20:28
Jika membaca pengalaman om Romi rasanya kita diajak bertualang, menyelam kedalam belantara pengetahuan.
Artikel & posting blog ini selalu mengingatkan saya bahwa saya termasuk kategori nggak mampu tapi sok tahu, hehehe…
Kadang saya merasa terlambat baca2 artikel ini. Jika saya membacanya ditahun awal kuliah, mungkin saya bisa mempersingkat masa-2 yg saya lewati, caelah
.
Terima kasih buat artikel yg selalu memberikan inspirasi.
July 8th, 2007 at 20:37
klo saya masuk ke kategori yg sadar bahwa tidak mampu dan pada saat yg sama jadinya saya tidak pernah tahu hingga sekarang sebenernya saya ini mampu apa yah?
July 8th, 2007 at 21:33
hmm
wah seru juga cerita anda, tapi saya masuk yang mana yah?
sepertinya jaman dulu mahasiswa saya adalah mahasiswa yang biasa2 saja, tidak seaktif anda.
July 8th, 2007 at 22:49
tadi siang aku baru ja mencerami beberapa mahasiswa informatika kurang lebihnya seperti artikel mas romi. Tapi memang benar mas romi, tetap kita jangan mudah menyerah dan tetap semangat.
Jangan jadikan kondisi ketidaknyamanan, ketidakmampuan ( secara finansial ), keterbatasan dan sifat negatif lain menjadi duri dalam perjalanan hidup kita.
OOT:
Seandainya saya bisa merasakan sampai S3 seperti mas romi, mungkin saya akan semakin tahu kemampuan dan ketidakmampuan saya.
tetap semangat memberikan wacana semangat mas Romi.
July 8th, 2007 at 23:04
wahh,, saya kadang tau dengan kemampuan saya, namun pada masalah tertentu saya tidak tau bahwa saya mampu menyelesaikannya.
July 8th, 2007 at 23:14
Golongan ke 5 : mahasiswa yang doyan makan-makan (apalagi kalau gratis).
Golongan ini bisa merupakan gabungan ke 4 golongan di atas.
July 8th, 2007 at 23:53
Mahasiswa kita kadang lebih dari itu mas, tidak sadar akan jati dirinya …
July 9th, 2007 at 0:44
TETAP BELAJAR
TETAP BERDOA
TETAP SEHAT
TETAP SEMANGAT
MAK YUUUUUUUUUUUUUUUUUUS
July 9th, 2007 at 6:50
#IMW,
Biasanya yang begini aktif di kegiatan kampus dan suka ngendon di kampus, hehehe… Just kidding, bukan stereotip
.
BTW, Assisten Lab termasuk kategorinya IMW nggak ya, soalnya pas semua dengan yang disampaikan.
Eh, soal “doyan makan-makan” ini karena menuduh Om Romi “besar” karena banyak makan juga yaks
July 9th, 2007 at 7:28
artikel yang penuh inspirasi
July 9th, 2007 at 9:24
waduh, setelah baca artikel ini saya masih bingung, di manakah saya?
kayaknya masih harus belajar lagi deh…
-IT-
July 9th, 2007 at 12:51
Saya udah tau waktu sma dulu mengenai artikel ini, saya dapat dari milis di LN, sepertinya ada di nomer 3, karena saya sangat suka komputer sejak kelas 4 sd saya sudah megang pc, lalu saya biarkan ilmu yang ngga saya sukai, terbukti dengan probabilitas terapan saya dapat nilai D, sementara sisanya A dan B semua…. kikiki
July 9th, 2007 at 14:20
# Raffaell: Sudah tahu lama tentang artikel ini? Padahal baru saya tulis kemarin
Maksudnya teori Experiential Learning kali yang sudah lama tahu. Karena itu memang sudah lama diformulasikan orang. Kalau artikelku sendiri baru aku tulis kemarin mas …hehehe
# Vavai: hehehe, lha sekarang tingkat berapa sih om
# Feha: Saya yakin orang pasti punya kemampuan banyak, cuman mungkin belum sadar
# Andriansah: Aktif di tempat lain kali mas
# Eko: hehehe ok thanks mas
# Zulkarnain Arsi: Memang orang ditakdirkan Allah seperti itu om
# IMW: Pemakan aktif dong, lebih enak pemakan pasif alias tukang ditraktir
# EDR: Masuk tipe yang 4 kali yah
# Faber: Cocok mas
# Ricky: Thanks …
July 9th, 2007 at 14:47
wah,saya senang skali membaca pengalaman bapak;))
kalo saya termasuk yang mana yah,.. saya merasa mahasiswa yang
ga jago ketika kumpul dg tmn2 jurusan saya. tp sebaliknya ketika menghadapi dunia nyata,..apa yg saya bisa sedikit ini banyak yang membutuhkan dan akhirnya banyak yg mempercayakan saya,… yah proyek2 kecil…install2 gitu;)) bikin web… tapi banyak temen saya yg mnurut saya jago,..tapi mereka tidak memanfaatkan ilmunya gitu yah.. yah mksudnya kayak menawar2kan gitu… Nah saat itulah saya mmanfaatkan kerjasama dengan mereka,.. yah misalkan dalam programer.. dll..( yg sulit) secara saya terinspirasi oleh ‘BillGates’…
jadi Mahasiswa yang mana yah saya;))
yang jelas sukses deh buat pak Romy..
‘ADAM13′
http://ifos.wordpress.com
July 9th, 2007 at 14:53
sayang bukan mahasiswa lagi…;)
July 9th, 2007 at 15:42
wah menarik juga baca artikelnya, memang mas romi itu sumber inspirasi…hehehe…
kalau aku masuk kategori mana ya ? kuliah aja nggak selesai-selesai. sepertinya memang kurang kerja keras kayak mas romi, tapi kelebihanku adalah bisa kuliahin 2 adikku sampai selesai sarjana meskipun mengorbankan kuliahku sendiri…hiks..semoga yang kali ini bisa selesai….biar nggak malu ditanyain anak2ku nanti…
amin. tetap semangat…
sukses selalu untuk mas romi
July 9th, 2007 at 15:51
@furqan: kayaknya 4 tipe itu gak cuma ada bangku kuliah (buat mahasiswa) aja deh.. gw rasa kadang sebagai apa pun kita, kita berada sebagai salah satu dari keempat tipe tersebut
@masRomi: Keren tulisannya… sebenarnya mungkin kita dah tahu akan 4 tipe orang (nggak cuma mahasiswa) seperti itu.. Tapi dengan dituliskan jadi bikin kita sadar “oh iya ya…”
Jadi inget kata-kata mas romi waktu ke kampus “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”
July 9th, 2007 at 15:57
# Furqon: hehehe sebenarnya teori Experiential Learning itu bukan hanya untuk mahasiswa, tapi untk seluruh proses pembelajaran.
# yadisyahid: Ya setiap orang punya potensi dan kemampuan. Mau berkorban untuk orang lain itu juga suatu kemampuan, nggak setiap orang mau melakukan itu. Tetap semangat. Asal fokus saja, satu sekolah diselesaikan dulu Yad
July 9th, 2007 at 17:13
Wah coba aku nemuin bacaan bergizi tinggi kayak ini di awal2 kuliah dulu, mungkin sekarang aku dah jadi “orang” nih…
Yah… itung2 better late than never lah…
July 9th, 2007 at 19:36
Gila, hebat banget. Kayaknya di Medan gak ada deh, mahasiswa kayak gini. Salut buat om romi.
July 9th, 2007 at 20:17
rasanya saya masuk yang nomor 3 mas.. soalnya kan belum sadar dengan kemampuan diri sendiri.. hehehe..
oh iya mas romi, kalo boleh nanya, sebaiknya mahasiswa computer science itu (seperti saya yang sudah ada di pertengahan jalan sarjana
) harus mendalami satu topik yang dia anggap kompetensinya dari sekarang (belum lulus), atau biarkan mengikuti alur kuliah dulu hingga pemahaman computer science secara menyeluruh didapatkan pas lulus, baru mendalami satu topik?
terimakasih ya mas..
July 9th, 2007 at 22:15
Bagi mahasiswa, di samping rajin belajar jangan lupa GAUL. Penting sekali untuk memupuk networking dan soft skill. Dan tentu saja agar bisa mendengar informasi terbaru acara makan-makan, sehingga bisa jadi Golongan V pasif alias ditraktir terus.
July 10th, 2007 at 0:21
waah saya masih baru dalam tahap nomor dua tuuh. sory terus terang. saya kuliah di jakarta yg asalnya dari makassar . Karena saya mengambil TI juga di salah satu perguruan tinggi swasta, saya merasa udah bisalah gitu dengan menguasai sedikit dengan windows. namun setelah beberapa lama saya dikenalin linux saya jadi bengong sendiri dan baru tau ada SO selain windows. jadi sadar sendiri bahwa saya tidak ada apa-apanya. uuuh V_V.
akhir nya saya pun belajar sekarang untuk mendalami linux. trims atas tulisannya pak romi. saya bisa belajar lagi ttg hal2 yg baru.
July 10th, 2007 at 8:57
Ada lagi tipe mahasiswa yang kuliah hanya sekedar punya status mahasiswa dan cuma utk mengejar titel dan ijazah Sarjana
July 10th, 2007 at 9:16
Hem… menarik pengalamannya pak romi
keknya saya masuk golongan saya tahu kalo saya tidak mampu
masih kurang kerja keras soalnya
July 10th, 2007 at 16:08
Waaah??? yg mana ya?? gak tau???
bingung mode: ON
July 11th, 2007 at 4:50
artikelnya bener2 menusuk hati saya..
*mahasiswaygngerasahebatpadahalkagak*
July 11th, 2007 at 9:33
# Me: Tidak ada kata terlambat untuk berdjoeang om
# Ahmad Simanjuntak: Hahaha di Medan banyak kok yang punya potensi. Saya bukan yang terbaik, dan masih lebih banyak lagi yang jauh lebih baik …
# ilm@an: Pertengahan kuliah, mungkin baru akan ke peminatan. Pilih peminatan sesuai dengan minat dan kecenderungan kita, terus matangkan dalam bentuk topik penelitian di tugas akhir. Core competence kita terbentuk ketika kita garap thesis (tugas akhir).
# IMW: Betul mbah, setuju. Petuah mbah Made memang selalu wajib di simak
# Ahmad Yani: Sip mas
# Ardiansyah: Kita akan mendapatkan sesuai dengan yang kita inginkan. Kalau pingin dapat ilmu, pasti dapatnya ilmu. Kalau hanya pingin dapat ijazah ya paling cuman dapat ijazah
# Camagenta: Selamat bekerja keras dan cerdas mas
# Rd Limosin: hehehe jadi puyeng yah
# aRdho: waduh, padahal merasa hebat itu keuntungan juga lho. Karena secara psikologi, positif theraphy kadang memang berhasil mendongkrak prestasi
July 11th, 2007 at 12:11
Wah, lihat ada komentar soal kuliah apa eh kerjanya kok nggak nyambung sebagai contoh ketidaksadaran akan kemampuan saya kok jadi kurang setuju. Saya berlatar belakang IT, namun saya begitu lulus memilih menjadi seorang editor buku pelajaran. Yang jelas saya sendiri melihat banyaknya kesesuaian antara bidang ilmu saya dengan bidang editorial, tapi entah bila hanya dilihat secara saklek saja.
Tapi memang pada akhirnya saya keluar dari pekerjaan editor itu dan kembali jadi kuli IT rendahan (maklum, sekian tahun tidak memegang barang IT beneran), karena… gak kuat muatan politiknya boo, kasihan deh anak2 Indonesia di jenjang pendidikan wajib. Tapi kasihan kok ya bukannya membawa perbaikan malah keluar, jiwa pengecut kali ye
July 11th, 2007 at 18:51
Wah, ternyata Pak Romi ada masa lalu yang bandel juga yach. Hehehe.
Biografi yang mengesankan sekaligus besifat memotivasi.
Hm, saya sendiri yach, termasuk yang mana yach?
Mungkin diantara/kombinasi 2 dan 3.
Lebih tepatnya saya sadar akan kemampuan dan ketidakmampuan di bidang tertentu.
Salam,
t”eddy” bear
July 11th, 2007 at 19:53
manusia makhluk merdeka yang bebas memilih takdirnya, bener kn Om Romi? jadi, kita bebas memilih masuk ke dalam jenis yang mana… mungkin hari ini diriku masuk jenis ke 3, mungkin besok masuk jenis ke 2, lalu mungkin (lagi) masuk jenis ke 4, atau jenis ke 1. wahh,, manusia itu makhluk amat dinamis ya.. =)
July 11th, 2007 at 20:54
tapi kadang yang menjadi masalah itu kita baru sadar kalau kita berada pada posisi di mana, ketika keadaan sudah begitu sulit ( bukan berarti tidak bisa ) untuk bisa diubah menjadi keadaan yang lebih baih
July 11th, 2007 at 21:02
udah lama sy nunggu artikel, ehh romi_sw is back…dapet ilmu lagi…di awal kuliah saya menyadari kekurangan saya, boro-boro mau kuliah TI, komputer aja baru kenal…tapi dengan “soft skill” yang sy coba self-improved, alhamdulillah udah tahap demi tahap naik menjadi concious akan kemampuan…sy setuju banget sm mas rom…usaha belajar = perbanyak begadang untuk mencari tahu dan terus belajar…nah kalo udah gitu, tinggal ikutin alur aja…dan liat status note YM mas romi, apa ada artikel baru or gak..heheh
follow the direction of IT Expert…mmmhh hopefully..
oiya sama banyak mengingat dengan yang di atas, yang bersemayam di atas arasy tertinggi ALLAH SWT..
# IMW : setuju buanget, soft skill memang penting abisss..
eh mas, kalo udh kerja, gimana ya cara mudah kita mengukur kita berada di tahap mana?, kan klo di tpt kerja udah bikin proyek2 yg lbh spesifik gitu deh…
July 11th, 2007 at 21:04
mas romi, makasih yah atas bantuannya selama ini, Alhamdulillah jadi juga website saya, kalo saya mungkin termasuk gol. 2, saya masih banyak belajar mas, karena saya baru 1 tahun di ilmu komputer
July 12th, 2007 at 11:23
# Dimas: Dimanapun tempat kerja, yang paling penting kreatifitas dan kerja keras mas
# Eddy: Ok thanks mas
# Zulkarnaen: Kadang bukan pilihan, tapi itu adalah proses pembelajaran
# Addthe: Karena itu kita diskusi dan pelajari bareng tanda tandanya mas. Supaya bisa untuk bahan instrospeksi diri.
# Mr.K: Asal begadangnya bukan untuk main game atau main yang lain …heheh
# Toni: Sip. Tetap sabar dan dalam perdjoeangan mas
July 12th, 2007 at 13:21
[…] You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your ownsite. […]
July 13th, 2007 at 9:04
baca yang ini saya malah inget sama Ibu dosen sayah,
beliau ngajarin automata.
Beliau keknya masuk ke kategori 1,
1. Dosen Yang Tidak Sadar Akan Ketidakmampuannya (Unconsciously Incompetent)
Kesan pertama sama beliau, 10 x 10 = cape dee… :-p
hari itu kuliah pertama beliau, saya sama temen2 cukup terheran2 sama nama mata kuliahnya (maklum katrok) “Teori bahasa dan automata”
dateng ke kelas dia langsung perkenalan nerangin teorinya yang kita2 sama sekali nggak ngeh.
terus karena penasaran kita tuh nyeletuk nanya,
“bu dosen, klo automata itu apaan sih, dan dipake buat apaan?”
lalu bu dosen termenung sebentar, tiba2 ngomong
“hmm gini aja yah, itu pertanyaan dijadikan tugas kalian saja untuk minggu depan” trus dia ngeloyor pergi
minggu depannya, kirain mau dibahas, eh ternyata dia cuma ngasih catetan suru fotocopy dan jelasin yang lagi2 kira nggak ngerti, sebenernya ini teh buat apa sih…
akhirnya satu semester berlalu dan saya lumayan dapet B,
karena masih nggak ngerti juga sama itu mata kuliah saya ambil lagi, berharap dosennya budan ibu yang waktu itu.
tapi ternyata sama hiks… akhirnya males dateng ke kuliahnya
saya dapet E Gubrakz….
ampe skr saya nggak ngerti buat apa automata,
saya cuma pernah baca dikit2 di teknik kompilasi
pak romi bisa jelasin sedikit pls.
Salam
July 13th, 2007 at 15:53
wah ternyata blognya udah aktif lagi, syukur deh
July 16th, 2007 at 11:21
Aku termasuk yang mana ya???
Pokoknya termasuk pernah jadi mahasiswa gitu aja
July 16th, 2007 at 15:41
Salam kenal Mas Romi.
Tulisan-tulisannya sangat inspiratif.
Tapi sepertinya kayak Mas Romi ini menjadi “matang” karena telah melalui ke 4 jenis mahasiswa diatas ya?
Tapi saya yakin seseorang / mahasiswa “tipe pembelajar” disaat terperangkap di tipe 1 (tidak sadar akan ketidakmampuannya) selalu akan melakukan evaluasi diri, apa yang sudah didapat selama ini, dengan cara belajar sekarang. Jika tidak puas, akhirnya dia cari cara belajar lain sampai ketemu jenis yang tepat. Tetapi sepertinya selalu ada point yang didapat dari setiap jenis yang pernah dilewati yakni pengalaman.
Jika diharapkan mahasiswa diarahkan ke jenis no 3……
Kita tidak selalu menyadari bahwa kita sudah berada pada “track” yang tepat? Haruskan pengalaman yang terlebih dahulu membuat kita sampai pada jenis ke 3?
Salam
July 16th, 2007 at 21:09
hehehe..kayaknya aq masih di jenis yg 1 n 2, padahal dah ga jadi mahasiswi lagi.
Salut buat mas romi…
pengin sich bisa ngembangin diri, tp ya itu bingung mo dimulai dr mana..penginya semua dipelajarin…weee
July 17th, 2007 at 0:14
Wah, membaca tulisan ini dan melihat kerja keras abang memang sangat inspiratif. Oversubscribe kredit, kerja bermacam2 part time, aktif berorganisasi, belajar bahasa Jepang, mengutak-atik komputer, dan tidur hanya 6 jam sehari… semuanya dilakukan pada saat yang bersamaan. Benar2 salut dengan anda… semoga saya juga bisa mengikuti pola kerja keras abang
.
July 17th, 2007 at 7:59
Assalamu’alaikum…mas Romi.
Wahh…proses petualangan yang luar biasa, jadi iri saya. 10 taon di negara sakura. dengan berbagai pengalaman menarik, sampai ngebobol adminnya profesor…wuihh. Cerdas dan Kreatif banget tuh.
Kalo saya berada dalam posisi 2 dan 3. kalo urusan kuliah kayaknya tdk terlalu kerepotan, tapi masalah future, prospektif, kayaknya masih butuh banyak belajar, hehehe…
Mas romi, saya mahasiswa Elektro di Surabaya, kasih tips donk untuk networking dgn orang2 engineer, komunitas yg sesuai dgn core competence saya. Coz link saya masih terbatas…
Thanks.
July 17th, 2007 at 8:57
wah dulu aye masuk kategori mana ya? hihi
July 17th, 2007 at 12:20
Ada juga mahasiswa yang sadar akan ketidakmampuannya (Consciously Incompetent), tapi dia sadar bahwa dia punya kemampuan untuk menutupi (bukan memperbaiki) ketidakmampuannya itunya (Consciously Competence), sehingga sebenarnya mahasiswa ini tidak sadar bahwa kemampuannya (Unconsciously Competence) yang merusak itu menunjukkan bahwa dia tidak sadar akan ketidakmampuannya (Unconsciously Incompetent).
Nah, yang ini kategori baru ya Pak Romi?
July 17th, 2007 at 12:25
Ada juga mahasiswa yang sadar akan ketidakmampuannya (Consciously Incompetent), tapi dia sadar bahwa dia punya kemampuan untuk menutupi (bukan memperbaiki) ketidakmampuannya itunya (Consciously Competence), sehingga sebenarnya mahasiswa ini tidak sadar bahwa kemampuannya (Unconsciously Competence) yang merusak itu menunjukkan bahwa dia tidak sadar akan ketidakmampuannya (Unconsciously Incompetent).
Nah, yang ini kategori baru ya Pak Romi ?
July 17th, 2007 at 14:41
kalo aku tipe yang suka bobo siang
July 18th, 2007 at 9:30
Nihongo Noryoku Shiken level 1 pun masih ga ada apa-apanya? ck ck ck…. *bayangin betapa bego-nya saya*
1000 kanji gituh…. hikksss
still a long way to go
July 18th, 2007 at 11:19
terima kasih atas proposalnya bantuannya pak romi saya irfan iqbal dari univ. muh. metro lampung
July 18th, 2007 at 18:28
Semangaaaattt,,,
untung mampir sini, jadi semangat lagi,,,
*_*
July 19th, 2007 at 15:53
Bunglon darat ?….buaya darat kali:D kaburrrr…….
July 19th, 2007 at 18:59
Assalamu alaikum,
Daftar di listing fans bang Romi nih …
Tapi usul Bang, nulisnya lebih sering lagi dooong, kalo perlu tiap hari, biar charge semangatnya tiap hari juga nih he he
Bang, kalo kita di Bandung pengen ngundang untuk bicara tentang Digital Library di rekan-rekan pustakawan sekolah boleh ndak ? Kontak kemana ya ?
Salam Salut Bang …
July 21st, 2007 at 7:56
ini kayaknya ada di hadits deh…
orang yang gak tahu bahwa dia gak tau
orang yang tau bahwa dia gak tau…
…
…
July 25th, 2007 at 10:52
kalo saya mungkin kategori yang lain…
mahasiswa yang sadar akan ketidakmampuannya, tahu harus menuju ke mana, tapi ga tahu jalan untuk menuju ke sana…. hehehehehe
makasih pencerahannya om…. moga-moga makin produktif dan reproduktif…. wakakakaka
daru
(pura-pura mahasiswa)
July 25th, 2007 at 23:34
# Himura: Ya dosen juga manusia mas. Pekerjaan dosen juga berat lho, ngajar tiap minggu, update knowledge, dan dia harus belajar untuk mengajar. Terakhir ini yang berat
Tugas dosen sebenarnya memang lebih banyak fasilitator sih. Cuman memang harus ngerti the root of problem dari mata kuliah yang diajar.
# Aribowo: Thanks mas. Sempat 2 jam kena crack
# mr. bambang: Pernah menjadi mahasiswa itu suatu nikmat lho mas. Masih banyak rekan-rekan lain yang mungkin sebenarnya lebih pintar daripada kita nggak bisa kuliah karena nggak ada biaya
# Indrianita: hehehe perlu jam terbang sehingga tersadar kita dalam posisi yang mana. Saya juga masih perlu banyak belajar kok …
# Wulan: Harus fokus mbak. Cari satu bidang garapan yang kita kuasai dan kita menikmatinya …
# Aussie: Banyak yang lebih hebat daripada saya mas. Mungkin malah karena saking geniusnya nggak perlu belajar banyak sudah paham … kalau saya memang harus setengah mati kerja keras baru paham ….hehehe
# Fuad Hasan: Minatnya di mana mas? Siapa tahu saya ngerti tempat kumpul teman2 di bidang itu.
# Unggul: Hehehe mungkin kategori baru tuh mas
# Sensy: Asal tetap nilainya bagus sih lebih enak gitu …hehehe
# Irfan: Yup sama-sama mas
# Brury: Alhamdulillah lah mas
# Wulan: hehehe bisa saja
# Reza: Boleh mas, coba lewat email saya dulu saja romi_sw@yahoo.com
# Ahmd: Ada yang ngerti isi lengkap hadits tersebut?
# Daru: Hehehe … mungkin masuk jenis baru itu
July 31st, 2007 at 2:11
Artikelnya sangat bagus dan membakar semangat, khususnya untuk saya yang gampang menyerah pada kenyataan, setelah baca jadi semangat lagi, bahwa kita hidup memang untuk berjuang.
July 31st, 2007 at 16:45
Saya masuk golongan 5: soalnya sampai detik ini enggak tahu kalu ada 4 golongan mahasiswa seperti itu…… salut deh buah Pak Romi, semoga bisa memberi maanfaat yang maksimal buat bangsa.
August 2nd, 2007 at 19:17
Assalammu’alaikum,
Saya bersyukur dapat mampir diblognya mas Romi, artikel-artikelnya sangat bermanfaat buat saya dan tentunya bermafaat buat orang banyak.
Memang kita harus menyadari, mencari ilmu yang bermanfaat sangat sulit, penuh perjuangan..
Salut buat mas Romi
August 3rd, 2007 at 11:45
[…] Pertanyaanya, bagaiman proses belajar itu terjadi? Maka jawabnya adalah seperti apa yang terlihat pada gambar di atas. Lihat juga tulisan Romi S. Wahono, “4 Jenis Mahasiswa: Anda termasuk yang Dimana?” Unconciously Incompetent: Bisa saja peristiwa belajar diawali dengan ketidak sadaran kalau dirinya tidak kompeten. Dalam konteks seperti ini, orang tersebut perlu mendapatkan bantuan lingkungan (peraturan, kebijakan kantor, trend di lingkungan kerja tau lingkungan sebaya) dan atau orang lain (guru, tutor, dosen, penasehat akademik, teman, pacar, de el el) untuk menyadarkan atau mengingatkan dirinya bahwa ada kemampuan tertentu yang harus ia kuasai. Disinilah, perlunya kita untuk selalu gaul dan “open minded”. Jangan pernah menutup diri, apalagi tidak pernah mau menerima masukan atau kritikan dari orang laen….. Conciousely Incompetent: Peristiwa belajar bisa saja diawali dari kondisi dimana ia menyadari dalam hal apa ia tidak kompeten. Motivasi untuk menguasai kompetensi tertentu datang dari dalam (internal motivation). Ini adalah kondisi yang senantiasa penting kita pertahankan. Orang dalam kondisi ini akan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Sebagai contoh, saya belajar tentan membuat blog, saya menadari bahwa saya harus mampu menguasai beberapa trik mengembangkan blog dengan wordpress, seperti mulai dari installasi, konfigurasi plugin, atau trik-trik lain. Kesadaran ini menuntut saya untuk mempelajari hal tersebut dengan berbagai cara mulai dari beli bukunya, tanya teman-teman melalui chatting dan trial and error. Bahkan, sampai lupa waktu ngutak-atik blog ampe tengah malem. […]
August 3rd, 2007 at 15:51
Wah KEREN….. pengalamannya.
Ada sebagian pengalaman yang sedang saya rasakan saat ini. Saya jadi semakin semangat tuk memperjuangkan kemampuan saya.
Ini dia contoh orang indonesia yang benar2 sukses ^_^
August 4th, 2007 at 15:52
Wah menarik sekali pengalamannya mas. Mas Romi mengaitkan pengalamannya dengan teori novice to expert.
Saya ingin menambahkan sedikit bahwa teori ini tidak bersifat diskrit tetapi suatu proses kontinu. Artinya kalau kita ada pada level 1 unconsious incompetence maka diperlukan perubahan yang dilakukan oleh orang yang concious competence, misalnya guru.(karena kalau tidak ada yang menyadarkannya kapan dia bisa sadar). Nah kalau sudah sadar (consious incompetence) maka ia harus belajar supaya kompeten. Lalu setelah dia sadar dia kompeten (consious competent) maka seiring waktu ia akan terus belajar dan berpengalaman sehingga melakukan sesuatu itu secara otomatis , nah disinilah level unconsious competent. Tetapi bila ia tidak pernah belajar lagi maka bisa saja ia kembali ke level dasar lagi yaitu unconsious incompetent (karena kompetensi yang ia punya sebelumnya tidak diupdate sehingga tidak sesuai lagi dgn zaman).
Ya , intinya ini sebuah siklus dari seorang novice ke expert.
Jadi kalau kita sudah tahu level dimana kita maka kita harus berubah supaya dapat ke level selanjutnya. Oke . Thanks
August 4th, 2007 at 19:55
Mas Romy, saya mohon bantuannya neh. saya lg thesis mo tulis tentang e-marketing pendidikan tinggi di Indonesia. kalo bisa, saya dibantu dengan referensinya mas. Thnx b4
August 6th, 2007 at 10:50
na….gitu dong….10 tahun di Jepang, bagi-bagi pengalaman about Jepang Saudara tua kita….yang mungkin ujung tombak Negara-Negara Asia buat nyaingin kapitalisme negara barat…….
August 10th, 2007 at 10:38
setoedjoe!!
:D
August 14th, 2007 at 9:19
Wahh pengalaman yang sangat luarbiasa.
August 15th, 2007 at 12:20
Maaf pak.Sebenarnya saya ingin bertanya. Kebetulan adek saya dapet info soal beasiswa ke Jepang gitu kalau nggak salah namanya Mobunsho. Nah kira-kira apa saja yang perlu dipersiapkan bagi orang-orang yang pengen belajar di Jepang baik dari segi budaya sampai ke intelektualnya.
Terima kasih.
August 17th, 2007 at 20:56
dapat pencerahan lagi gue…….. makasih ya !
_(makin banyak kita belajar kita sadar makin sedikit ilmu yang kita miliki)
wasallam
August 21st, 2007 at 15:04
Terima kasih Pa Romi untuk tulisan bagusnya. Pernah waktu beres kuliah ada tawaran ngajar privat pemrograman web pake ASP, padahal saat itu baru belajar. Tapi karena tidak sadar akan ketidakmampuan, dihajar saja…padahal kalo inget sekarang, betapa merasa tidak layak ngajar pada saat itu
August 24th, 2007 at 12:14
wah pengalaman bapak selama mahasiswa,,,,cukup menarik,,,unik,,,dan banyak nilai moral yang di sampaikan,,,
kayaknya saya masuk tipe kedua deh
August 29th, 2007 at 11:02
SETELAH MELIHAT ISI ARTICEL ANDA AKU KEPINGIN BERDISKUSI DENGAN ANDA SECARA EMPAT MATA
August 29th, 2007 at 15:47
#OOT: Silakan, lewat YMku di romi_sw
September 4th, 2007 at 17:57
jd inget ini neeh:
“practice make perfect”
“no body is perfect”
“so,,why we practice”,,,,,,,cm becanda denk,,hehe
gw setuju ma dee (^_^),,pengalaman mas Romi sungguh hebat,,sungguh beruntung mas bisa dsna selama lbh kurang 10 tahun,,(klo g slh)
Gw msti giat..giat..giat…
kesempurnaan tidak datang sendiri,,tetapi kesempurnaan harus diupayakan dan diusahakan….
September 4th, 2007 at 17:59
hmmmmmmmmm,….baguis
September 5th, 2007 at 8:17
aku bukan mahasiswa lagi, tapi mau kuliah lagi ah, biar punya pengalaman kaya gitu …
-susah nahan air mata…-
September 5th, 2007 at 20:39
aku pernah juga ke jepang ikut program pemuda persahabatan..tinggal di komagane shi selama 1 mgg.
saya liat kehidupan dan cara hidup mereka emang sangat serius, tidak membuang waktu dan berusaha terus maju dengan segala ide inovatif
Mas Romy saya kenal reputasi anda…salam kenal
September 10th, 2007 at 10:39
waah…..jadi terinspirasi
bisa menjadi motivasi untuk lebih baik….
September 16th, 2007 at 14:23
Setelah saya ketemu langsung dan mengikuti kuuliah dari Bapak banyak banget yg saya dpt.selain ilmu yg b’hubngan dg mata kuliah saya juga banyak dpt pengetahuan dan ilmu2 baru. dan terutama yg menarik buat saya mungkin jg temen2 adalah pengalaman dan trik sukses yg anda raih. hal itu sangat..sangat..memberi inspirasi utk ke depan. semoga saya bisa niu kesuksesan Anda.
trimakasih utk ilmu2 yg telah Bapk share.
salam dr anak PPs dinus
September 18th, 2007 at 14:18
waw nambah lagi inspirasi gua buat nulis makasih pak romi
September 22nd, 2007 at 17:51
nemu link ini pas lg searching2 kerja part time.. hehe.. taunya dapet artikel yg hebat bgt gini..
pas ak jg mhs informatika lo…. mhs yg lg down pdhl senin mulai UTS..
jd terinspirasi n semangat lg nih abis baca artikel ini..
thx ^^
September 23rd, 2007 at 18:27
Om Romi gimana sih caranya bisa kuliah multitasking begitu.
Baca sepak terjang om Romi saya jadi termotivasi untuk mengikuti jejaknya nich.
Tapi ya gitu dech, saya orangnya suka angin-anginan, dan sialnya anginnya sepoi-spoi sehingga lebih banyak waktu untuk “leyeh-leyeh”. Pasti aja dech jadi mhs klasifikasi no 1. Bener gak tuh…
Btw, sualut buanget..
September 25th, 2007 at 8:32
makasih Om Romi… dah dateng ke STT Telkom
Sabtu, 22 Sept 2007…
Jadi dapet kuliah gratis deh dari Om Romi…
btw, jadi mo tanya2 nih…
1. kerja sambilan apa yah yang lumayan gajinya di Indonesia? hehe…
2. kalo daku sadar ada kekurangan, tapi kok males mulu kalo pas mau berubah ya? huff… kayaknya emang butuh pengorbanan nih…
October 1st, 2007 at 0:22
Wasduh, jadi termotivasi membaca posting pak Romi ini. Susahnya saya belum sadar-sadar juga, setelah membaca postingan ini jadi sedikit agak sadar. Semoga bukan semangat yang anget-anget “chicken feses”. Walaupun pasti ujung-ujungnya begitu. Kemudahan memang menyesatkan.
October 5th, 2007 at 16:51
aq termasuk yang mana ya ????,
kadang sok tau padahal gak tau
kadang gak tau padahal lumayan tau
ah bingung ???
October 19th, 2007 at 8:38
seneng liat semangatnya om…
saya masih bingung masuk kelompok mana.
boleh tanya gak?? boleh boleh
menurut om, apakah seseorang yang pintar itu karena memang IQnya yang tinggi trus mudah belajar atau ada cara lain biar kta pinter meski IQ kta standar aja? makasih…
October 19th, 2007 at 12:03
salut bwt om romi, kisahnya bikin insprasi. tp…
kok semangatku cm sebentar y.trz ilang.
dasar ank muda. hiks..
October 23rd, 2007 at 16:05
[…] Jenis-Jenis Mahasiswa Anda termasuk jenis mahasiswa yang mana? […]
November 21st, 2007 at 16:43
setelah baca artikel ini saya jadi pengen serios ni belajar.makasih ya pak Romi
November 22nd, 2007 at 1:00
Assalamualaikum Pak Romi, sejak sma hingga kuliah, saya suka belajar artikel anda di situs ilmukomputer, banyak sekali pelajaran yg didapatkan, sekarang saya baru membaca blog anda diwordpress, isinya sungguh memotivasi orang untuk berubah, dua jempol tuk Mas Romi.
December 2nd, 2007 at 13:41
wah…pengalaman om hebat banget
tp saya bingung
saya termasuk kategory yang ,mana
mungkin yang pertama kali ya..
thans bang atas artikelnya yang top banget
December 18th, 2007 at 14:55
nice article! terima kasih artikel ini memberi inspirasi dan semangat.
sepertinya saya masih di antara tipe 2 dan 3. Kuliah hukum tapi kerjaan TI, capeee deeee
December 18th, 2007 at 15:10
# Ndaru: Wah itu justru menarik, kita perlu orang hukum untuk masalah TI. Cyberlaw kita belum mapan. Kesempatan menarik? Coba diarahkan ke situ
January 22nd, 2008 at 20:50
keren juga kisahnya…terlalu pinter tu…minum obat apa ya kalo boleh tau…semangatnya luar biasa bgt…tapi kan…ga semua orang kaya pak romi…
January 29th, 2008 at 21:22
[…] Anda mahasiswa yang luntang-luntung kurang kerjaan? Sudah mulai mual ndengerin kuliah pak dosen? Mulai bete dengan suasana kos-kosan? Apalagi teman dekat sudah mulai pindah kos karena nggak tahan anda utangin terus hehehe. Pingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut ditimpukin tetangga? Atau dulu punya mimpi pingin ikut mbangun republik tercinta, tapi jangankan itu, mbangun diri sendiri saja susah bo Apa salah jurusan yah? Padahal dulu dah baca-baca tulisan tips dan trik memilih jurusan. Bingung karena nggak dapat apa-apa di universitas. Jadi makin terseok-seok dan tanpa ruh kalau baca tulisan tentang jenis mahasiswa. Hmmm … coba deh ikuti tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan bisa bikin semangat bangkit. […]
February 1st, 2008 at 20:38
Subhanallah…
Tips-tipsnya bagoes banget tuch Pak…
Jadi ketauan saya termasuk mahasiswa yang mana!! hehehe..
Ayo pak, berjoeang terus biar jadi wali kota semarang…hehehe…
February 6th, 2008 at 16:31
salam kenal om Romi.
asli. saya terpukau dgn perjalan hidupnya.saya kayanya blm tau jenis mahasiswa yang mana nih.pusing dgn jatidiri sendiri
tapi setelah liat blognya om Romi, saya jadi termotivasi nih,mudah-mudahan tahun ini bisa mewujudkan obsesi yang tertunda….
February 7th, 2008 at 15:26
enaknya masuk yg mna ya ??
biar org laen aja de yg menilai ..
February 12th, 2008 at 14:11
[…] 12 February 2008 in Outside Anda mahasiswa yang luntang-luntung kurang kerjaan? Sudah mulai mual ndengerin kuliah pak dosen? Mulai bete dengan suasana kos-kosan? Apalagi teman dekat sudah mulai pindah kos karena nggak tahan anda utangin terus hehehe. Pingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut ditimpukin tetangga? Atau dulu punya mimpi pingin ikut mbangun republik tercinta, tapi jangankan itu, mbangun diri sendiri saja susah bo Apa salah jurusan yah? Padahal dulu dah baca-baca tulisan tips dan trik memilih jurusan. Bingung karena nggak dapat apa-apa di universitas. Jadi makin terseok-seok dan tanpa ruh kalau baca tulisan tentang jenis mahasiswa. Hmmm … coba deh ikuti tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan bisa bikin semangat bangkit. […]
March 12th, 2008 at 0:30
[…] Anda merasa jadi siswa atau mahasiswa tidak berprestasi? Kemampuan otak terbatas? Atau susah banget nangkep pelajaran atau lebih parah lagi karena merasa nggak dapat apa-apa di kampus? Jangan nyerah, tingkatkan motivasi, jangan mau jadi pecundang, jangan mau kalah, tamaklah dalam ilmu tapi jangan tamak dalam harta, tahta atau wanita Insya Allah hasilnya akan ngikut, lha mau berharap ke siapa lagi, teman, saudara, sahabat? Ingat nggak ada yang bisa mengubah diri Anda kecuali Anda sendiri lho, sesuai dengan janji yang Diatas, “innallaha laa yughaiyiru maa biqaumin, hatta yughaiyiru maa bianfusihim“. […]
April 10th, 2008 at 2:46
Maaf,bapak simpatisan PDI perdjoeangan kah?hehe
April 10th, 2008 at 5:44
wah sangat menarik Pak, cuma kalo saya masih ada di kelompok pertama itu bagaimana ya Pak? padahal perjalanan kuliah saya udah masuk hari-hari akhir tapi ko’ belum dapet apa-apa ya?!
April 15th, 2008 at 17:10
tulisanny aok bangett tuh pak..
mm say atermasuk yang mana yah?!..hehehe
*mikir
April 25th, 2008 at 13:37
Assalamualaikum / salam sejahtera…
Mau nimbrung nih mas…..mas hebat sekali bisa mengembangkan diri di Jepang…..kalo di INdo ampuuuunnn mass mas….sarjana informatika/elektro/mesin/sarjana MIPA banyak yg nyasar kerjanya jadi sales asuransi,valas,jualan roti,main politik..wahhh pokoke mbulet…padahal IP mereka tinggi lho…apa indonesia ni salah arah ya? *mikir*
April 25th, 2008 at 14:32
#Ryan: Hehehe ini nggak jelas yang salah siapa, dosen, mahasiswa, universitas, atau masyarakat?:D
May 12th, 2008 at 12:49
Artikelnya keren bangetzz…..
Sungguh sebuah penggambaran yang sangat baik.
btw, makasih ya mas atas izinnya….
Mohon dibimbing terus ya mas…
May 19th, 2008 at 21:30
wah gak sia² kuliah jauh² kejepang yah?
jadi kepingin neh..,mampu gak yah?
semangat
June 9th, 2008 at 15:25
Hiks, saya mahasiswa tipe apa yah??Dulu pas awal2 kuliah, semangat banget ngutak-atik komputer.Sekarang, pas mau akhir/lulus ga tau lagi mau ngapain. Kaya’nya ada krisis percaya diri gitu atau apalah. Gmana ya menanggulanginya??
Halah, kok jadi curhat … ^_^
Yang pasti salute kepada Om Romi.
-Wassalam-
June 10th, 2008 at 8:43
aslm
subhanallah…saia smpe tbngong2 bca kisah bpk…kren bgt…otak, hati, n bdn krja optimal smua…smg saia bs mnirunya…:)
June 21st, 2008 at 18:14
[…] setelah masuk ke universitas yang diinginkan, kmu bs pilih termasuk jenis mahasiswa apa diri kmu itu agar kita bisa mengatur waktu menjadi mahasiswa sukses dengan langkah awal menjadi seorang entrepreneur untuk menggapai impian menjadi pebisnis IT. […]
June 28th, 2008 at 5:13
Dear Pak Wahono,
Hmmm,
saya masuk no 1, 2, dan 4 nieh pak.. gimana ya? hehehe… Harus banyak melatih diri kayaknya, soalnya tidur aja udah mirip beruang hibernasi sepanjang musim dingin. :p
Cheers,
Mew da Vinci
August 4th, 2008 at 13:13
luar biasa, pengalaman pak romi.
mudah2an saya bisa seperti bapak….(amien)
pak, boleh curhat dikit kan?
saya mahasiswa TI tingkat 7 diPTS Bekasi
masih mumet mo ambil bidang minat apa?
mohon bantuannya pak romi,
kira2 klo ambil SIG atawa Ai,gimana pak?
makasih sebelumnya.
fachruroji.
August 13th, 2008 at 14:24
hmm…
Om Romi, sepertinya saya sudah mengalami fase pertama, kedua dan ketiga… namun point 4 belum nih …
Do’akan ya Om, biar perdjoeangan saya bisa lancar, seperti lancarnya aliran sungai cisadane…
Semoga bisa lebih baik dari Om..
Thanks
= just me =